Langsung ke konten utama

Postingan

Salah Cetak

Saya lulusan Sastra Jepang, Universitas Indonesia.
Bukan pamer. Jauh dari niatan itu. Tidak ada yang perlu dibanggakan menjadi lulusan UI. Hanya mengatakan sebuah fakta dan kenyataan saja.
Terlebih saya menyadari bahwa saya justru bisa membuat UI ditertawakan dan dipandang tidak bisa mendidik mahasiswanya dengan baik.
Bagaimana tidak, saya tidak mahir berbahasa Jepang. Itu juga fakta. Lucu kan? Pandangan umum adalah kalau seseorang lulus kuliah, seharusnya dia menguasai ilmu yang diajarkan oleh para dosennya. Lulusan sastra Jepang, seharusnya memiliki kemahiran berbahasa Jepang.
Kenyataannya saya tidak.
Bukan drop out loh, saya lulus dengan nilai lumayan bagus dan punya ijasah dari universitas tersebut.
Selama lebih dari 25 tahun setelah lulus, saya lebih mengandalkan kemampuan berbahasa Inggris saja dibandingkan menerapkan apa yang dipelajari selama lebih dari 5 tahun kuliah disana. 
Jika ada seorang yang mengajak saya berbincang dalam bahasa Jepang, saya akan pilih kabur saja. Maklum, sela…
Postingan terbaru

Ngalun

Ngalun.
Artinya, bukan seperti "ngalun" yang terdapat dalam kalimat, "Rossa mengalunkan lagu-lagu sendu nan merdu". Jauh beda artinya, mirip seperti perbandingan duren dengan jeruk. 
Meskipun, sebenarnya, kalau pakai ilmu "cocoklogi", masih bisa dikait-kaitkan. Apa sih yang tidak bisa kalau menurut kaidah per-cocoklogi-an
Dalam kata "mengalunkan" (lagu), biasanya dibayangkan bahwa suara yang keluar dari mulut diibaratkan seperti aliran. Kata ngalun juga memang berkaitan dengan aliran juga, yaitu aliran sungai.
Ngalun yang ini merupakan sebuah kata dalam bahasa Sunda yang artinya "berenang mengikuti aliran sungai/kali". 
Jadi, menurut kaidah cocoklogi, ya dipas-pasin supaya pas. Mirip dikit lah.
Sungai CipakancilanDipikir-pikir lagi, dalam bahasa Indonesia banyak sekali yang redundan, alias berlebihan. Contoh yang paling sering dipakai adalah Bank BNI, padahal BNI sendiri adalah singkatan dari Bank Negara Indonesia. Jadi, kalau singkatan Bank…

Pangeran = Pengawal = Pekerja

Ada satu kesamaan antara saya dan si Kribo cilik yang sudah tidak kecil lagi.
Kami berdua sama-sama "anak laki-laki satu-satunya" dalam keluarga. Bedanya, saya memiliki 3 saudara perempuan sedangkan si Kribo anak semata wayang alias satu-satunya tanpa saudara.
Bagi banyak keluarga, terutama di masa sebelum tahun 1990-an, dan mungkin masih terjadi di masa sekarang, anak laki-laki satu-satunya bisa dianggap "pangeran" dalam keluarga. Mungkin, sudah banyak berubah di tahun 2000-an, walaupun kalau melihat keluarga yang tinggal di lingkungan kami, pandangan ini tetap masih dipegang banyak keluarga.
Anak laki-laki itu penting untuk penerus garis keturunan.
Spesial
Tidak peduli pemerintah mengatakan anak lelaki dan perempuan itu sama, masih tidak terhitung keluarga yang mendambakan kehadirannya.
Kami "spesial"..
Paling tidak begitulah yang dipikirkan orang banyak. Tidak terhitung sudah berapa kali terdengar kawan yang mengatakan saya beruntung. Walaupun ada seorang k…

Istriku Ibu Rumah Tangga Biasa Saja

Yayang. Cinsay. Say. Neng. Hes.
Semua itu panggilan saya terhadap seorang wanita yang sudah menjadi teman hidup selama 19 tahun lamanya. Wanita yang begitu spesial dalam kehidupan saya dan si Kribo. Tanpanya, bisa dikata, saya dan si Kribo tidak bisa berkutik banyak.
Bagaimana tidak, tanpanya, saya bukan cuma harus memikirkan kerjaan kantor saja, tetapi juga memasak, mencuci, mengurus rumah, pergi berbelanja, mengasuh dan mengawasi si Kribo, dan banyak lagi pekerjaan rumah tangga lainnya.
Tanpanya, saya akan datang ke kantor dengan baju kusut, kaos kaki belang karena salah ambil (beberapa kali terjadi), atau dompet tertinggal. Rumah sudah pasti bakalan seperti kapal pecah, berantakan total.
Si Kribo pasti sulit makan karena sudah kecanduan makanan "restoran" rumahan yang dibuat oleh si Yayang. 

Cinta + Patah Hati + Balas Dendam

(Catatan : Untuk bisa membayangkan apa yang terjadi dalam tulisan ini dengan baik, butuh tambahan imajinasi untuk flashback ke masa lalu. Tahun mulainya cerita ini antara tahun 1989-1990.

Zaman yang diusung oleh pelem Dilan dan Milea meski sebenarnya tidak seromantis dan seindah itu. Mungkin karena Dilan settingnya di Kota Kembang, Bandung, sedangkan cerita di bawah di Kota Hujan, Bogor.

Tapi, bolehlah kalau background kisah nyata ini diimajinasikan pakai setting Dilan.
Yang pasti jangan imajinasikan ada smartphone karena di masa itu, jangankan ponsel, telpon rumah saja di Bogor banyak yang belum pasang.

Juga buang gambaran laptop/notebook/tablet, komputer masa itu masih butuh disk lebar untuk sistem operasinya. Microsoft Windows belon nongol, yang ada DOS, Wordstar, Lotus doang yang dipakainya harus bergantian dan ga bisa sekaligus
Kalau di kepala Anda ada dua benda itu, berarti ga sah... settingnya amburadul)

Meja Kerja

Senyum lebar. Sedikit meringis menjurus nyengir. Pastinya mengandung rasa puas bin senang. Kalau mau membayangkan, kira-kira mirip muka si kucing nakal Garfield sehabis melakukan kejahilan.
Kira-kira begitulah muka saya sore ini sehabis mandi. Tentunya, sebelum mengetik di notebook HP berusia hampir 3 tahun.
Sambil bersedekap dan mata mengarah pada salah satu sudut rumah tipe RSSSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sempit Sekali Selonjor Saja Susah) kami. (Tolong cek apakah huruf S-nya sudah tujuh atau belum yah). 
Penghuni sudut itu hari ini baru saja berganti.

Salah Tapi Tidak Merasa Bersalah

1,241.
Hari ini, jubir pemerintah untuk penanganan Covid-19 memberikan berita, yang lagi-lagi menambah kekhawatiran banyak orang. Ia memberitahukan kepada rakyat +62 bahwa ada "pemecahan rekor" harian jumlah tambahan orang yang positif terinfeksi virus berbahaya ini.
Mengkhawatirkan.
Tidaklah, saya tidak mau menunjukkan jari ke arah pemerintah. Memang, tidak bisa disangkal, disana ada peran berbagai kebijakan para orang pintar yang memegang jabatan di pemerintahan +62 yang mendorong terjadinya situasi seperti. Tidak bisa dipungkiri kalau melihat mereka seperti mengambil resiko demi perekonomian.
Tapi...